Sabtu, 07 Desember 2019


PENGARUH GADGET PADA KECERDASAN EMOSIONAL REMAJA

Arib Mufid/17410062
Fakultas Psikologi
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

            Perubahan zaman dari masa kemasa tentunya memberikan berbagai dampak perubahan diberbagai sisi kehidupan, baik secara moral, sosial maupun sains. Perubahan dalam bidang keilmuan tentunya memberikan dampak pada bidang sains, dimana ilmu pengetahuan senantiasa berkembang dalam kehidupan manusia dengan tujuan untuk menjawab hal-hal yang menjadi  pokok permasalah pada zamannya atau pada zaman dibelakangnya, selain itu perkembangan yang terjadi dalam bidang sains ini juga bertujuan untuk memeberikan kemudahan kemudahan pada manusia dalam mengerjakan perkerjaannya sehari hari. Seiring dengan perkembengan zaman tersebut, banyak ide-ide baru bermunculan, sehingga pada tahap perkembangannya, zaman senantiasa berjalan maju dimana banyak penemuan-penemuan baru yang ditemukan dan semakin mempermudah segala perkerjaan manusia yang ada di muka bumi ini.

            Perkembangan zaman saat ini, disebut maju dengan ditandai munculnya berbagai macam teknologi yang semakin canggih. Salah satu hasil dari perkembangan teknologi yang semakin pesat adalah terciptanya berbagai macam gadget. Gadget adalah alat yang memiliki fungsi praktis dan secara spesifik dibuat lebih canggih daripada teknologi yang telah ada sebelumnya, beberapa contoh gadget adalah laptop, smartphone, komputer tablet dll. Dalam KBBI gadget diartikan sebagai peranti elektronik atau mekanik dengan fungsi praktis. Perkembangan yang pesat ini tentunya berdampak banyak bagi manusia. Salah satu dampak yang terasa adalah dampak pada kondisi emosional seseorang dimana gadget disini mampu merubah sisi emosi seseorang dalam merespon segala tindakan yang ditujukan kepadanya terutama saat membahas terkait penggunaan gadget pada dirinya.

Emosi merupakan sesuatu yang abstrak dalam diri manusia. Emosi sendiri secara garis besar dibedakan menjadi emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif adalah yang memberikan keuntungan sedangngkan emosi negatif akan menghasilkan kerugian (Mashar, 2011). Salah satu bentuk emosi negatif adalah marah, marah memang hal yang normal namun apabila tidak kelola dengan kecerdasan emosional yang baik maka bisa menimbulkan perilaku yang merugikan seperti perilaku agresi. Agresi diartikan sebagai perilaku berupa melukai orang lain baik secara fisik ataupun psikis (Rahman, 2003). Maka dibutuhkan kecerdasan emosional untuk bisa mengelola emosi dengan baik.
 Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang untuk mengetahui emosi yang dialaminya dan mengelolanya dengan baik (Goleman, 2002). Goleman (2002) menyatakan bahwa ada beberapa aspek kecerdasan emosional yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi diri, empati diri, dan keterampilan sosial.

            Berdasarkan aspek-aspek yang telah disebutkan di atas disebutkan salah satunya adalah keterampilan sosial. Dewasa ini gadget telah mengambil banyak peranan penting dalam kehidupan sosial manusia mulai dari komunikasi, penyebaran informasi, layanan publik, dan lain sebagainya sudah dapat dilakukan dengan gadget. Maka disadari atau tidak penggunaan gadget yang kurang tepat apalagi sampai membuat kecanduan akan memberikan pengaruh buruk pada kondisi emosional seseorang yang bisa berdampak pada munculnya perilaku negatif seperti agresi. Salah satu yang alasan mengapa gadget bisa mempengaruhi munculnya perilaku agresi adalah dengan adanya game. Game secara tidak langsung dapat memicu adrenalin dan bisa berujung pada munculnya amarah yang diluapkan melalui tindakan agresi (Musbikin, 2009). Perilaku ini bisa terjadi akibat pemain game secara tidak langsung melakukan modeling terhadap adegan kekerasan yang terdapat di game tersebut (Singgih, 2006). Tentunya hal semacam ini akan mengganggu kehidupan sosial orang yang mengalaminya. Maka dalam artikel ini akan dibahas bagaimana perilaku agresi yang disebabkan oleh gadget dan penanganan perilaku tersebut dengan proses konseling.

Dampak buruk gadget pada kondisi emosional yang dapat memunculkan perilaku agresi ini disebabkan karena adanya ketergantungan pada gadget dan menganggap gadget sebagai benda yang amat sangat berharga. Dengan persepsi seperti itu maka jika ada yang mengganggu gadget tersebut akan dianggap sebagai ancaman. Selain itu perputaran informasi yang sangat cepat dan dapat dengan mudah diakses melalui gadget juga memberikan pengaruh tersendiri. Penerimaan arus informasi seperti tontonan, bacaan, dan lain sebagainya dapat dengan mudah diterima lewat gadget tanpa ada penyaring.

Salah satu bentuk perilaku agresi yang ditimbulkan akibat penggunaan gadget yang tidak sesuai porsi adalah seperti yang dilansir dari web https://www.detik.com tentang seorang siswa yang datang ke sekolah dengan membawa  sabit dan mengancam salah satu guru karena gadget miliknya disita ketika digunakan pada jam pelajaran. Siswa tersebut menunjukkan perilaku agresi yang tidak seharusnya karena tidak terima saat mendapat hukuman. Perilaku ini muncul karena siswa tersebut mengalami ketergantungan pada gadget sehingga saat gadgetnya disita sebagai bentuk hukuman ia tidak bisa menerima hal tersebut dan muncul emosi marah yang mengakibatkan keluarnya perilaku agresi. Hal ini tentunya sudah mengganggu lingkungan sosial akibat penggunaan gadget yang tidak sesuai porsinya.

Kasus-kasus seperti ini tentunya masih banyak lagi terjadi di berbagai daerah yang tidak semuanya terekspos oleh media. Maka perlu dilakukan penanganan khusus untuk menanggulangi perilaku siswa semacam ini. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan menerapkan proses konseling pada anak tersebut. Konseling merupakan proses komunikasi yang bertujuan memberikan bantuan yang dilakukan oleh seorang yang memberikan bantuan atau disebut konselor dengan orang yang membutuhkan bantuan atau disebut klien yang tujuan akhirnya adalah membantu klien menyelesaikan masalahnya (Prayitno, 2004).

 Konseling sendiri memiliki banyak jenis dan  teknik di dalamnya. Untuk kasus ini maka jenis konseling yang dirasa cocok adalah menggunakan konseling behavior dengan teknik modeling. Modeling merupakan teknik dimana klien akan mengobservasi perilaku, pikiran, dan sikap yang diperankan oleh model (Abimanyu dan Marinhu, 1996). Dalam melakukan modeling ini klien tidak hanya meniru tetapi juga berpikir untuk menyesuaikan diri seperti apa yang dipergakan oleh model (Feist, 2008). Dalam kasus di atas tujuan dari dilakukannya konseling ini adalah untuk menghapus perilaku agresi ketika siswa melakukan hal yang tidak tepat, dalam hal ini menggunakan gadget di waktu pelajaran. Indikator keberhasilan dari proses konseling ini adalah ketika siswa bisa menerima hukuman ketika ia melakukan hal yang salah.

Pelaksanaan proses konseling ini akan diawali dengan membangun rapport lalu dilanjutkan dengan structuring seperti konseling pada umumnya. Kemudian sebelum masuk ke sesi modeling klien diminta untuk memperhatikan dengan baik apa yang akan diperagakan oleh model. Kemudian model memperagakan perilaku, sikap, dan pola pikir yang diinginkan. Adegan yang diperagakan bisa serupa dengan kasus yang dialami klien bisa juga dengan adegan lain tetapi tetap memiliki poin-poin inti yang sama dengan apa yang dialami klien. Setelah peragaan selesai klien diminta untuk menyimpulkan informasi apa yang ia dapatkan setelah mengobservasi model tersebut. Peragaan bisa dilakukan lebih dari satu kali dan setelahnya klien diminta untuk mempraktekkan apa yang telah diperagakan oleh model sebelumnya. Setelah selesai praktek selanjutnya klien diberi penguatan mengenai apa-apa yang telah dilakukannya. Penguatan itu bertujuan untuk menanamkan lebih dalam sikap, perilaku, dan pikiran yang telah dimodeling oleh klien. Penguatan bisa berupa saran dan masukan yang disampaikan oleh konselor. Proses konseling ini bisa dilakukan lebih dari satu kali apabila klien dirasa belum mencapai indikator target yang diinginkan.

Gadget sebagai alat yang diciptakan untuk membantu pekerjaan manusia tentunya juga memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya adalah gadget membuat manusia lebih mudah dalam melakukan banyak hal terutama komunikasi dan penyampaian informasi. Namun penggunaan gadget yang tidak sesuai dengan porsinya tentu dapat berdampak buruk pada penggunanya. Salah satu dampak buruk tersebut adalah menurunkan kecerdasan emosional yang berakibat pada timbulnya perilaku negatif seperti agresi. Dalam kasus yang telah dibahas di atas menunjukkan adanya penurunan kecerdasan emosional dan perilaku negatif yang diakibatkan penggunaan gadget yang tidak tepat. Maka salah satu cara mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan proses konseling. Jenis konseling yang cukup tepat adalah menggunakan konseling behavioral dengan teknik modeling yang bertujuan untuk menghilangkan perilaku-perilaku negatif yang tidak diinginkan dengan cara observasi dan membiarkan konseli berpikir dan menyimpulkan mengenai perilaku negatifnya dan perilaku positif yang telah dicontohkan

Daftar Pustaka
Prayitno & Erman Amti. (2004). Dasar-Dasar Bimbingan Konseling. (2nd ed).
Komalasari, G. (2011). Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks
Goleman, Daniel. (2002). Emotional Intelligence (terjemahan). Jakata: PT Gramedia Pustaka Utama
Mashar, R. (2011). Emosi anak usia dini dan strategi pengembangannya. Jakarta: Prenadamedia Group.
Gading, I Ketut, dkk. (2017). Keefektifan Konseling Behavioral Teknik Modeling dan Konseling Analisis Transaksional Teknik Role Playing untuk Meminimalkan Kecenderungan Perilaku Agresif Siswa Sekolah Menengah Atas. Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling, 2(4), 157-164.
Willis, Sofyan S. )2004(. Konseling Individual teori dan praktek. Bandung : Alfabeta.
Amanda, Rika Agustina. (2016). Pengaruh Game Online Terhadap Perubahan Perilaku Agresif Remaja di Samarinda. eJournal Ilmu Komunikasi, 4(3), 290-304.
https://kbbi.kemdikbud.go.id
https://id.wikipedia.org
https://www.detik.com